Pompa Air Jadi Andalan, Petani Lumika Berjuang Hindari Gagal Panen

Berita, Daerah160 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Target Pemerintah Kabupaten Luwu untuk mewujudkan Indeks Pertanaman (IP) 300 atau tiga kali panen dalam setahun masih menghadapi tantangan serius. Di Dusun Lumika, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang, krisis air yang kembali terjadi pada musim kemarau membuat ratusan hektare sawah terancam gagal panen.

Pantauan Jagadnews.id di lokasi, Sabtu (25/7/2026), menunjukkan kondisi lahan sawah mulai mengering. Retakan tampak membelah tanah di antara rumpun padi yang baru memasuki masa pertumbuhan. Sejumlah petani berupaya mempertahankan tanaman dengan memompa air dari bendungan suplesi, meski harus menanggung biaya operasional yang cukup besar.

Petani setempat, Jafar Sena, 55 tahun, mengatakan luas areal persawahan di Dusun Lumika kini mencapai sekitar 135 hektare. Lahan tersebut bertambah secara bertahap melalui program percetakan sawah sejak 2010. Namun, menurut dia, perluasan lahan tidak diiringi pembangunan jaringan irigasi yang memadai.

“Kalau persoalan air tidak segera ditangani, kami bisa gagal panen. Yang paling dibutuhkan sekarang adalah saluran irigasi agar air dapat mengalir ke sawah,” kata Jafar.

Ia menjelaskan, selama lebih dari sebulan wilayah tersebut tidak diguyur hujan. Kondisi itu menyebabkan tanaman padi yang baru ditanam mulai mengalami kekeringan.

Selama ini petani mengandalkan mesin pompa untuk mengangkat air dari bendungan suplesi. Namun sumber air berada cukup jauh sehingga membutuhkan biaya bahan bakar yang tinggi.

“Tidak semua petani memiliki mesin pompa. Banyak yang harus meminjam. Saya menggunakan mesin Honda 3,5 PK dengan kebutuhan lima hingga tujuh botol bensin per hari. Harga satu botol sekitar Rp13 ribu,” ujarnya.

Menurut Jafar, bantuan pipa paralon menjadi langkah darurat yang dapat dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih tersisa. Ia memperkirakan upaya penyelamatan harus dilakukan dalam waktu paling lambat sepekan sebelum tanaman mengalami kerusakan yang lebih parah.

Selain bantuan darurat, ia berharap pemerintah membangun jaringan irigasi permanen yang menghubungkan Bendung Desa Padang Tuju dengan areal persawahan di Lumika. Menurutnya, Bendungan Padang Sappa di Noling juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber pengairan.

“Setahu saya, pintu air ke wilayah ini sebenarnya sudah dipersiapkan,” katanya.

Jafar menilai target IP 300 sulit diwujudkan apabila persoalan ketersediaan air belum terselesaikan. Bahkan untuk mencapai dua kali panen dalam setahun saja, kata dia, petani masih menghadapi berbagai kendala.

“Dua kali panen saja masih berat, apalagi tiga kali. Ada juga petani yang khawatir jika dipaksakan, kesuburan tanah akan cepat menurun,” ujarnya.

Ia menambahkan, kekeringan bukan persoalan baru bagi petani di Noling. Hampir setiap tahun mereka menghadapi masalah serupa, bahkan pada musim tanam tahun ini kekeringan terjadi dua kali.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, Jafar memperkirakan hasil panen hanya mampu mencapai sekitar 40 persen dari potensi produksi.

“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata karena sawah ini menjadi sumber penghidupan utama masyarakat,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *