Aksi Pemalangan di Rante Balla Kembali Mengganggu Operasional Tambang

Berita, Daerah108 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU — Aksi pemalangan jalan kembali terjadi di Desa Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Selasa (24/2/2026). Sejumlah warga Dusun Minanga menutup akses jalan menuju lokasi operasional PT Masmindo Dwi Area, perusahaan tambang emas yang beroperasi di wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan dan keterangan sejumlah sumber, pemalangan dilakukan dengan membatasi kendaraan dan karyawan yang hendak masuk ke area perusahaan. Namun, aksi tersebut menuai sorotan karena dinilai tidak konsisten.

Beberapa karyawan mengaku tidak diperbolehkan melintas, sementara kendaraan tertentu disebut masih dapat melewati akses tersebut.

“Terpaksa balik ke rumah saja. Kami tidak diizinkan lewat. Tapi ada mobil perusahaan yang tetap bisa masuk,” ungkap salah seorang karyawan

Informasi yang dihimpun menyebutkan, oknum warga Dusun Minanga melakukan pemalangan menuntut terkait tenaga kerja lokal Rante Balla. Mereka meminta agar anggota keluarga yang saat ini bekerja sebagai helper dinaikkan jabatannya menjadi operator alat berat jenis ADT (Articulated Dump Truck).

Selain itu, oknum warga juga mendesak agar perusahaan mempekerjakan sekitar 30 orang dari kelompok mereka. Sumber menyebutkan, tuntutan tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada pihak perusahaan. Namun demikian, meskipun perusahaan menerima pekerja yang mereka ajukan, aksi tetap berpotensi berlanjut dengan melibatkan kelompok lain.

Aksi pemalangan ini mendapat reaksi dari masyarakat di tiga kecamatan sekitar, yakni Latimojong, Bajo, dan Bajo Barat.

Sejumlah warga menilai aksi tersebut hanya menguntungkan kelompok tertentu dan berdampak luas terhadap pekerja lain yang bergantung pada aktivitas perusahaan.

“Kasihan karyawan lain yang tidak terlibat apa-apa. Mereka harus bolak-balik karena akses ditutup,” ujar seorang warga Bajo.

Situasi ini disebut telah berlangsung berulang kali dalam beberapa bulan terakhir, dengan pola aksi yang dilakukan secara bergantian oleh kelompok berbeda.

Ketua Asosiasi Buruh Tanah Luwu, Zainuddin, mendesak manajemen PT Masmindo Dwi Area untuk bersikap tegas terhadap seluruh kontraktor.

Menurutnya, perusahaan perlu menerapkan aturan yang konsisten, termasuk soal pembayaran upah bagi pekerja yang tidak masuk akibat aksi pemalangan.

“Perusahaan harus tegas. Jangan sampai ada karyawan yang tetap menerima gaji padahal tidak masuk kerja dengan alasan jalan ditutup. Ini bisa memicu sikap apatis dari pekerja lain,” tegasnya.

Ia juga mendorong solidaritas antarpekerja agar aksi pemalangan yang dilakukan oleh segelintir orang tidak menghambat ribuan karyawan lainnya. Apabila tidak ada langkah konkret dari perusahaan, aksi serupa berpotensi terus berulang dan memperkeruh hubungan antara masyarakat, pekerja, dan manajemen.

“Perlu juga Karyawan bersatu agar Pemalangan jalan seperti ini bisa dibubarkan, karena kadang hanya 2 orang saja yang lakukan pemalangan, sementara karyawan yang mau masuk kerja itu Ribuan orang,” Tegas Zain

Sementara itu, Ketua Pokja, Sofyan Thamrin, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan harus mengedepankan dialog dan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan.

Ia menyampaikan bahwa keberadaan investasi di Kabupaten Luwu harus memberi manfaat luas bagi masyarakat, namun tetap berjalan sesuai aturan dan mekanisme perusahaan.

“Kita ingin investasi tetap berjalan, tenaga kerja lokal diperhatikan, tetapi semua harus melalui prosedur dan kompetensi yang jelas. Jangan sampai ada tekanan yang justru merugikan stabilitas daerah,” ujarnya.

Aksi pemalangan yang terus berulang di Rante Balla kini menjadi ujian serius bagi perusahaan, pemerintah daerah, kepolisian, serta tokoh masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial dan keberlanjutan investasi di Kabupaten Luwu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *