Karhutla di Bua Luwu Meluas hingga Ratusan Hektare, Kebun Warga Terbakar

Berita, Daerah34 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, meluas hingga ratusan hektare. Kebakaran yang terjadi sejak Senin (19/10/2026) itu kini menjalar ke dua desa, yakni Desa Lengkong dan Desa Puty, serta mendekati kawasan permukiman warga.

Tiupan angin kencang, medan perbukitan yang curam, dan keterbatasan sumber air menjadi kendala dalam upaya pemadaman. Selain membakar kawasan hutan, api juga melalap lahan perkebunan warga yang ditanami cengkih, kakao, durian, pala, dan lada. Camat Bua, Jaka Sadli, mengatakan luas lahan yang terbakar mengalami peningkatan signifikan sejak kebakaran pertama kali dilaporkan. Pada hari pertama, luas area terbakar diperkirakan sekitar 20 hektare. Namun, berdasarkan perkembangan terakhir yang diterima hingga Rabu (21/10/2026) siang, luasnya telah mencapai ratusan hektare.

“Untuk kebakaran hutan dan lahan ini sudah terjadi sejak dua hari yang lalu. Untuk hari pertama itu kurang lebih 20 hektare. Untuk update sekarang ini sudah mencapai ratusan hektare,” kata Jaka, Rabu (21/10/2026). Menurut Jaka, kebakaran kini melanda Desa Lengkong dan Desa Puty. Pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa, petugas gabungan, dan masyarakat terus berupaya menangani kebakaran agar api tidak semakin meluas dan mengancam permukiman.

Dampak kebakaran juga dirasakan petani yang memiliki perkebunan di kawasan terdampak. Sejumlah tanaman produktif dilaporkan hangus terbakar, sehingga menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
“Akibat kebakaran hutan dan lahan ini, kerugian warga itu banyak di perkebunan cengkih, cokelat, hingga durian,” ucap Jaka.

Tujuh Titik Api di Desa Lengkong
Penjabat Kepala Desa Lengkong, Muhammad Darussalam, mengatakan kebakaran di wilayahnya terjadi di sejumlah lokasi yang tersebar dari bagian barat hingga timur kawasan gunung Buntu Barru.
Menurut Darussalam, terdapat sedikitnya tujuh titik lokasi kebakaran di wilayah tersebut. Luas area yang terbakar diperkirakan telah melebihi 100 hektare.

“Untuk di Desa Lengkong ini, tempatnya di Buntu Baru, itu titik terbakar sudah mencapai tujuh titik lokasi, mulai dari arah barat sampai mengarah ke arah timur. Luasannya sekitar lebih 100 hektare,” ujar Darussalam. Darussalam menjelaskan, kebakaran mengakibatkan sejumlah tanaman perkebunan milik warga rusak dan hangus. Tanaman yang terdampak antara lain cengkih, kakao, pala, dan lada atau merica. Untuk tanaman cengkih, jumlah pohon yang terbakar dilaporkan telah mencapai lebih dari seratus pohon. Sementara itu, api yang merambat ke bagian timur kawasan kebakaran turut menghanguskan tanaman lada milik petani.

Darussalam memperkirakan kerugian material yang dialami petani di Desa Lengkong telah mencapai ratusan juta rupiah. Namun, pendataan menyeluruh masih diperlukan untuk memastikan jumlah tanaman yang rusak serta total kerugian akibat kebakaran.

“Kalau kerugian petani ini secara material sudah mencapai ratusan juta,” tuturnya.

Medan Curam dan Kekurangan Air Hambat Pemadaman Upaya pemadaman karhutla di Kecamatan Bua menghadapi tantangan berat karena sebagian titik api berada di kawasan perbukitan dengan medan yang curam. Akses menuju lokasi juga terbatas, sementara ketersediaan air untuk memadamkan api sangat minim.
Jaka mengatakan petugas bersama masyarakat saat ini masih berada di kawasan terdampak untuk melakukan penanganan dan memantau perkembangan api.

Pemerintah kecamatan juga menyiapkan armada sebagai langkah antisipasi apabila kobaran api semakin mendekati permukiman warga.

“Hingga sekarang warga belum diungsikan. Petugas masih siaga memantau. Kami menyiapkan armada untuk persiapan jika api semakin mendekat ke permukiman,” ungkap Jaka. Menurut Jaka, Tim Damkar, TNI dan Polri serta masyarakat bersama kepala desa turut melakukan upaya penanganan di lapangan. Namun, kondisi medan dan terbatasnya sumber air membuat pemadaman membutuhkan dukungan tambahan.

“Kami harapkan ada bantuan karena kondisi medannya juga cukup curam dan air sangat kurang,” jelasnya.

Penanganan dilakukan secara bergotong royong dengan melibatkan personel Pemadam Kebakaran Kabupaten Luwu, Polsek Bua, TNI, SAR Pramuka, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat setempat.

PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) juga mengerahkan dukungan armada untuk membantu penanganan karhutla di kedua desa tersebut. Armada yang diturunkan terdiri dari satu unit fire engine berkapasitas 10.000 liter, satu unit mobil tangki air berkapasitas 10.000 liter, serta satu unit ambulans.

Dukungan tersebut diharapkan membantu petugas dalam memenuhi kebutuhan air dan mendukung penanganan darurat di lokasi kebakaran.

Pemerintah Desa Imbau Warga Tidak Membakar Lahan Di tengah upaya pemadaman, Pemerintah Desa Lengkong mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun membakar sampah yang berpotensi memicu kebakaran baru.

Darussalam mengatakan pemerintah desa juga mengupayakan langkah pencegahan untuk menghambat penjalaran api. Salah satunya dengan mendorong pembuatan jalur pemutus api atau sekat bakar di lokasi yang memungkinkan.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat kondisi medan yang menanjak dan sulit dijangkau, sementara pasokan air di sekitar lokasi kebakaran terbatas.

“Dengan kondisi medan yang sangat ekstrem, menanjak, kemudian air juga susah, diharapkan warga membuat jalur yang bisa memutus mata rantai api,” kata Darussalam. Ia menambahkan, masyarakat turut berpartisipasi membantu petugas dan relawan yang melakukan pemadaman di lapangan.

Selain kendala pemadaman, pemerintah desa juga menghadapi keterbatasan persediaan masker bagi warga yang membutuhkan perlindungan dari asap kebakaran.

“Untuk masker, itu masih kekurangan. Kami masih kekurangan masker, tetapi sementara ini kami upayakan dan koordinasikan. Mudah-mudahan perusahaan terdekat bisa membantu,” ujarnya.

Hingga Rabu, (21/10/2026), petugas dan masyarakat masih berupaya menangani kebakaran di Desa Lengkong dan Desa Puty. Pemerintah setempat terus memantau perkembangan api, terutama di lokasi yang berpotensi mengancam permukiman, sembari mengupayakan dukungan untuk mempercepat pemadaman dan mengurangi dampak terhadap warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *