Di Usia 80 Tahun, Nenek Rosi Masih Bekerja Mengikat Bibit Rumput Laut di Luwu

Berita, Daerah15 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Embun pagi masih menggantung di dedaunan ketika suara azan Subuh memecah keheningan Dusun Taddette, Desa Senga Selatan, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu.

Di sebuah rumah tua berdinding papan yang mulai lapuk dimakan usia, seorang perempuan renta perlahan membuka matanya. Tak ada suara cucu yang berlari, tak ada anak yang memanggilnya, apalagi suami yang menemani masa tuanya. Rumah itu hanya dihuni oleh dirinya seorang.

Namanya Rosi.
Usianya telah menginjak 80 tahun.

Sejak suaminya meninggal dunia, ia menjalani hidup seorang diri. Hari-harinya sunyi. Namun kesunyian itu tidak pernah membuatnya menyerah.

Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, Nenek Rosi perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Langkahnya pelan. Lututnya tak lagi sekuat dulu. Punggungnya telah membungkuk dimakan usia.

Ia menuju dapur sederhana yang hanya berisi tungku, beberapa peralatan memasak, dan beras yang kadang ada, kadang tidak.

Jika masih tersisa beras, ia akan menanak nasi untuk sarapan sebelum bekerja.

Namun ketika persediaan beras habis, ia hanya meneguk air putih, lalu bersiap menjalani hari dengan perut yang nyaris kosong.

Tak ada yang bisa dipilih.
Sebab hidup harus tetap berjalan.

Dengan pakaian sederhana yang warnanya mulai pudar dan lusuh karena terlalu sering dipakai, Nenek Rosi keluar dari rumahnya.

Ia menutup pintu rumah perlahan, lalu mulai berjalan menuju rumah pemilik usaha rumput laut yang berjarak sekitar 150 meter dari rumahnya.

Jarak itu mungkin terasa dekat bagi orang muda.

Namun bagi perempuan berusia 80 tahun, setiap meter adalah perjuangan.

Langkahnya kecil.
Pelan.
Hati-hati.

Sesekali ia berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum kembali melangkah. Kakinya seakan sudah tak sanggup lagi menopang tubuh renta itu, tetapi tekadnya jauh lebih kuat daripada rasa lelah.

Ia tetap berjalan.
Sebab jika ia tidak bekerja hari itu, dapurnya mungkin tidak akan mengepul.

Sesampainya di lokasi, beberapa warga telah lebih dulu duduk beralaskan terpal.
Mereka adalah para buruh pengikat bibit rumput laut.
Di antara mereka, Nenek Rosi adalah yang paling tua.

Perempuan-perempuan yang usianya jauh lebih muda masih mampu bergerak cepat. Sementara Nenek Rosi mulai bekerja dengan gerakan yang perlahan.

Di depannya telah tersedia gulungan tali dan bibit rumput laut.

Satu per satu bibit itu ia ikat.
Pelan.
Rapi.
Penuh ketelitian.

Tangan yang telah dipenuhi keriput itu masih terus bekerja.

Jari-jarinya yang kasar tampak dipenuhi goresan-goresan luka kecil akibat gesekan tali dan bibit rumput laut yang setiap hari disentuhnya.

Tak jarang rasa nyeri datang.
Namun ia tak pernah memperlihatkannya.
Sesekali terdengar tawa kecil ketika teman-temannya bercanda.
Nenek Rosi ikut tersenyum.
Meski hidupnya tak mudah, ia tidak kehilangan senyum.

Ia bekerja bukan untuk menjadi kaya.
Bukan pula untuk membeli perhiasan.
Tidak bermimpi memiliki barang elektronik baru.
Tidak berharap mengenakan pakaian mahal.

Ia hanya ingin membeli beras.
Sedikit ikan.
Mungkin gula.
Atau sekadar memastikan dapurnya tetap mengepul esok hari.
Sesederhana itu impiannya.

Salah seorang warga sekitar, Irma, mengenal betul sosok Nenek Rosi.

Menurutnya, perempuan renta itu dikenal sangat sabar dan tekun bekerja.

“Walaupun tenaganya sudah tidak sekuat buruh lainnya, Nenek Rosi tetap datang bekerja selama kondisi badannya memungkinkan. Beliau tidak pernah mengeluh,” tuturnya.

Irma juga menceritakan bahwa kondisi fisik Nenek Rosi memang sudah tidak sekuat dulu.

Jika sedang sakit atau badannya terasa lemah, ia memilih tidak datang bekerja.

Bukan karena malas.
Melainkan karena tubuhnya memang sudah tak mampu dipaksa.

Dari pekerjaannya sebagai buruh pengikat bibit rumput laut, Nenek Rosi memperoleh upah sekitar Rp50 ribu untuk setiap tiga hingga lima hari bekerja.

Jumlah yang mungkin bagi sebagian orang hanya cukup untuk sekali makan di restoran.

Namun bagi Nenek Rosi, uang itu harus cukup untuk membeli kebutuhan hidup beberapa hari ke depan.

Sering kali uang tersebut habis hanya untuk membeli beras dan kebutuhan pokok.

Beruntung, masih ada tetangga yang berhati baik.
Sesekali mereka datang membawa beras, sayur, atau bahan makanan lainnya.

Bukan karena Nenek Rosi meminta.
Tetapi karena mereka tahu, perempuan tua itu sedang berjuang bertahan hidup.

Di usia yang telah mencapai delapan puluh tahun, ketika rambutnya telah memutih seluruhnya dan tubuhnya semakin rapuh, seharusnya Nenek Rosi menikmati masa tua dengan beristirahat di rumah.

Namun kenyataan hidup berkata lain.
Ia memilih tetap bekerja.
Bukan karena ingin dipuji.
Bukan pula karena ingin dikasihani.

Tetapi karena ia tidak ingin hidup berpangku tangan kepada siapa pun.
Selama kedua kakinya masih mampu melangkah.
Selama kedua tangannya masih bisa mengikat seutas tali.
Selama napas masih berembus.
Nenek Rosi akan terus bekerja.

Di balik tubuh renta itu tersimpan pelajaran besar tentang harga diri, keteguhan, dan semangat hidup.

Bahwa kemiskinan tidak pernah mampu mengalahkan kemauan seseorang untuk tetap berjuang.

Dan di sudut kecil Dusun Taddette, setiap ikatan bibit rumput laut yang dibuat oleh tangan keriput Nenek Rosi adalah bukti bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan di usia yang hampir seabad. (Acc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *