BMS Berhemat di Tengah Krisis Listrik, Karyawan Dirumahkan Sementara

Berita, Daerah514 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU — PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) menghadapi tekanan operasional akibat menurunnya debit air yang menjadi sumber utama pembangkit listrik perusahaan. Kondisi tersebut disebut berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir dan berdampak langsung terhadap kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan listrik untuk operasional smelter.

Penurunan debit air dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem serta fenomena El Niño yang berdampak terhadap ketersediaan air sebagai sumber energi pembangkit. Kondisi ini menyebabkan kemampuan pembangkit BMS dalam memasok kebutuhan listrik mengalami penurunan signifikan.

Dampaknya mulai terasa terhadap kegiatan produksi smelter dalam tiga bulan terakhir. Penurunan pasokan listrik membuat tingkat produksi mengalami penurunan secara signifikan.

Kondisi tersebut semakin berat pada 16 Agustus 2026. BMS terpaksa menghentikan sementara operasi salah satu tungku karena daya listrik yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk menopang kegiatan produksi secara normal.

Situasi itu turut berdampak pada beban operasional perusahaan. Dengan tingkat produksi yang menurun, biaya operasional dinilai tidak lagi sebanding dengan kemampuan produksi yang dapat dicapai.

Sebagai langkah efisiensi untuk menjaga keberlangsungan perusahaan, BMS kemudian melakukan sejumlah pengendalian biaya, termasuk merumahkan sementara sebagian karyawan.

Keputusan tersebut disebut bukan langkah yang mudah dan dilakukan setelah perusahaan sebelumnya menjalankan berbagai upaya efisiensi operasional.

Meski dirumahkan sementara, status karyawan tetap aktif sebagai karyawan BMS. Selama masa tersebut, perusahaan menyesuaikan upah serta menjamin perlindungan jaminan sosial tetap aktif.

Manajemen BMS juga menyatakan akan terus mengevaluasi perkembangan kondisi pembangkit dan operasional produksi.

Apabila kemampuan pembangkit dan kegiatan produksi kembali normal, perusahaan akan memprioritaskan pemanggilan kembali karyawan yang dirumahkan secara bertahap, menyesuaikan dengan kebutuhan operasional.

Dengan demikian, langkah perumahan sementara karyawan merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadapi keterbatasan pasokan listrik sekaligus menjaga keberlangsungan operasional di tengah kondisi debit air yang masih rendah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *