Warung Asma Yanti Tumbuh di Depan Pos KJM, Aktivitas Warga Jadi Peluang Usaha

Berita, Daerah603 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Asma Yanti (36) tak pernah membayangkan sebuah pos penjagaan bisa ikut mengubah denyut ekonomi usaha kecil yang dirintisnya.

Setiap hari, perempuan yang membuka warung makan di depan Pos 1 Kader Jaga Mobilisasi (KJM) Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, itu menyiapkan makanan untuk pelanggan yang datang silih berganti.

Warung sederhana milik Asma menjadi salah satu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tumbuh di sekitar kawasan Pos 1 KJM Forum Desa (Fordes) Matappa PT Masmindo Dwi Area (MDA).

Usaha tersebut mulai dirintis sekitar setahun terakhir, seiring dengan semakin berkembangnya aktivitas di sekitar proyek Awak Mas yang dikelola PT MDA.

Bagi Asma, membuka warung bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Usaha itu menjadi cara untuk memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul dari aktivitas masyarakat, pekerja, maupun petugas yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Kehadiran Pos 1 KJM kemudian memberikan warna baru bagi usaha kecilnya.
Setiap hari, petugas yang berjaga di pos membutuhkan konsumsi. Sebagian kebutuhan tersebut dipenuhi dari warung-warung milik warga yang berada di sekitar pos.

Asma menjadi salah satu pelaku UMKM yang merasakan langsung dampaknya.

“Menambah pendapatan. Saya kira kita bersyukur dengan kehadiran mereka,” kata Asma.

Menurut dia, dari aktivitas petugas yang berada di Pos 1 KJM, warungnya rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp120.000 per hari.

Jumlah tersebut belum termasuk penghasilan dari warga atau pengendara yang melintas kemudian singgah untuk makan atau membeli kebutuhan lainnya.

Bagi sebuah usaha kecil yang dikelola secara sederhana, tambahan pendapatan tersebut memiliki arti penting.

Setidaknya, keberadaan pos tidak hanya menghadirkan aktivitas baru di lingkungan Desa Saronda, tetapi juga menciptakan peluang bagi masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha.

“Setiap hari rata-rata Rp120.000 dari karyawan PT MDA yang bertugas di posko. Belum lagi kalau ada yang melintas dan singgah,” ucap Asma.

Ekonomi Warga Ikut Bergerak

Kisah Asma bukan satu-satunya. Di sekitar Pos 1 KJM, sejumlah usaha warga juga mulai bermunculan. Ada warung makan, penjual kebutuhan harian hingga usaha pengisian air galon.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa sebuah fasilitas yang pada awalnya berfungsi sebagai pos penjagaan dapat memberikan efek ekonomi tambahan bagi lingkungan di sekitarnya.

Koordinator Pos 1 KJM Desa Saronda, Muhammad Haris, mengatakan, respons masyarakat terhadap keberadaan pos tersebut sejauh ini cukup baik.

Pos tersebut telah berjalan sekitar tiga minggu dan selama itu, masyarakat mulai melihat keberadaannya bukan hanya sebagai tempat penjagaan, tetapi juga sebagai bagian dari aktivitas sosial dan ekonomi di desa.

“Sejauh ini, respons masyarakat terhadap kehadiran posko di sini setelah tiga minggu berjalan cukup baik,” ujar Haris.

Menurut Haris, salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dilakukan dengan memberdayakan warung-warung yang berada di sekitar pos.

Kebutuhan konsumsi petugas tidak dipusatkan pada satu warung saja. Sebaliknya, warung warga diberi kesempatan secara bergantian.

“Untuk konsumsi, kita memberdayakan warung-warung di depan sini secara bergantian. Misalnya tiga minggu ke depan di warung sebelah lagi,” tuturrnya.

Pola tersebut diharapkan membuat manfaat ekonomi dari keberadaan Pos KJM dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Dengan demikian, tidak hanya satu pelaku UMKM yang mendapatkan keuntungan, tetapi sejumlah usaha kecil di sekitar pos juga memperoleh kesempatan yang sama.

Bagi Haris, pola pemberdayaan seperti ini menjadi bagian penting dari keberadaan Pos KJM di tengah masyarakat.

Sebab, keberadaan sebuah pos di desa tidak semestinya hanya berbicara tentang keamanan dan mobilisasi.

Lebih jauh, pos tersebut dapat menjadi ruang interaksi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan.

Dari Konsumsi hingga Air Galon

Dampak ekonomi itu terlihat dari kebutuhan sederhana sehari-hari. Selain warung makan, kebutuhan air minum juga dipenuhi dari usaha warga setempat.

“Belum lagi isi galon, juga ada di sini dan kebutuhan lain-lain,” teeerang Haris.

Perputaran kebutuhan sehari-hari tersebut secara perlahan menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Uang yang dibelanjakan untuk makanan, minuman, air galon, dan kebutuhan lainnya kemudian masuk ke kantong pelaku usaha lokal.

Bagi masyarakat desa, perputaran ekonomi semacam itu memiliki arti tersendiri.
Nilainya mungkin terlihat kecil jika dihitung dalam satu transaksi. Namun, jika berlangsung setiap hari dan melibatkan banyak pelaku usaha, aktivitas tersebut dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

Asma sendiri memilih melihat perubahan tersebut sebagai sebuah kesempatan.
Warung kecil yang ia kelola mungkin belum besar. Namun, dari tempat sederhana itu, ia mendapatkan tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kehadiran aktivitas baru di sekitar desa juga membuatnya memiliki pelanggan yang lebih beragam.

Bukan hanya warga setempat, tetapi juga pekerja, petugas pos, dan orang-orang yang melintas di kawasan tersebut.

Menjadi Penghubung Warga dan Perusahaan

Diluar manfaat ekonomi, Pos KJM juga memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting.
Haris mengatakan, pos tersebut dapat menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi kepada perusahaan.

“Disini juga menjadi penyambung aspirasi warga ke perusahaan,” katanya.

Fungsi tersebut membuat keberadaan Pos KJM tidak berhenti pada aktivitas penjagaan.

Pos menjadi titik temu antara masyarakat dengan aktivitas perusahaan yang berlangsung di wilayah sekitar.

Bagi masyarakat, keberadaan saluran komunikasi yang mudah dijangkau dapat membantu menyampaikan kebutuhan, keluhan, maupun aspirasi yang muncul di lapangan.

Sementara bagi perusahaan, komunikasi langsung dengan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar.

Dalam konteks proyek berskala besar seperti Awak Mas, hubungan dengan masyarakat lokal menjadi salah satu aspek penting yang perlu terus dibangun.

Sebab, keberadaan proyek tidak hanya membawa aktivitas industri, tetapi juga berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Karena itu, cerita Asma Yanti dan warung kecilnya menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana aktivitas ekonomi berskala besar dapat bersinggungan dengan usaha masyarakat di tingkat paling bawah.

Bagi Asma, ukurannya bukan pada seberapa besar proyek yang hadir di daerahnya. Ia melihatnya dari sesuatu yang lebih dekat: berapa banyak pelanggan yang datang, berapa rupiah yang masuk ke warungnya, dan seberapa besar penghasilan itu membantu keluarganya.

Dari warung kecil di depan Pos 1 KJM, harapan itu tumbuh perlahan. Bukan sebuah perubahan besar yang datang dalam semalam, melainkan kesempatan kecil yang hadir setiap hari.

Dan bagi pelaku UMKM seperti Asma, kesempatan kecil tersebut bisa menjadi alasan untuk terus bertahan dan mengembangkan usaha.

Kehadiran Pos KJM pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah bangunan atau tempat berjaga.

Di sekitarnya, ada warung yang kembali ramai, ada usaha isi ulang galon yang mendapatkan pelanggan, ada warga yang memperoleh tambahan penghasilan, dan ada ruang komunikasi yang mempertemukan masyarakat dengan perusahaan.

Disanalah sebuah pos sederhana menemukan makna yang lebih luas: ketika aktivitas perusahaan dapat berjalan beriringan dengan kehidupan masyarakat, peluang ekonomi lokal pun dapat ikut tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *