Pertumbuhan Ekonomi di Luwu Melonjak 7,43 Persen Tertinggi dalam Lima Tahun

Berita, Daerah491 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu pada 2025 tercatat mencapai 7,43 persen, naik dari 4,36 persen pada tahun sebelumnya. Kenaikan sebesar 3,07 persen ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Capaian tersebut didorong oleh pergerakan sejumlah sektor ekonomi. Meski sektor pertanian masih menjadi penopang utama, geliat sektor lain mulai terlihat, terutama industri dan konstruksi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2025 sektor industri tumbuh 11,19 persen. Sementara itu, sektor konstruksi menyumbang 4,78 persen terhadap perekonomian Luwu.

Peningkatan ini sejalan dengan aktivitas sejumlah perusahaan di Luwu, salah satunya PT Masmindo Dwi Area di Kecamatan Latimojong. Proyek tambang emas tersebut kini memasuki tahap konstruksi dan ditargetkan mulai berproduksi tahun depan.

Kepala Tim Ekonomi BPS Luwu, Ridwan, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah masih didominasi sektor pertanian. Namun, sektor lain seperti industri pengolahan dan konstruksi mulai menunjukkan peningkatan signifikan.

Ia menjelaskan, aktivitas proyek Masmindo saat ini masih dikategorikan sebagai sektor konstruksi karena belum memasuki tahap produksi.

“Karena belum pengolahan, aktivitasnya masih masuk konstruksi, sama seperti proyek pembangunan lainnya sebelum beroperasi penuh,” ujarnya saat ditemui di Kantor BPS Luwu, Kota Belopa, Senin (6/4/2026).

Menurut Ridwan, meningkatnya aktivitas konstruksi turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.

“Tahun ini memang Masmindo dan sejumlah perusahaan lain menyerap banyak tenaga kerja. Kehadiran industri tambang sangat besar pengaruhnya, bahkan bisa jadi pertumbuhan ekonomi akan bergeser dari pertanian ke pertambangan,” ungkapnya.

Secara makro, produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Luwu juga meningkat hingga Rp63 juta. Namun, Ridwan mengingatkan bahwa kondisi ini perlu ditopang oleh keberlanjutan investasi.

Di satu sisi, kehadiran industri menciptakan efek ganda (multiplier effect), seperti menghidupkan warung warga dan usaha jasa lokal. Namun di sisi lain, pertumbuhan di sektor konstruksi sangat bergantung pada kesinambungan pembangunan.

Jika pembangunan infrastruktur perusahaan melambat tanpa dibarengi produksi yang stabil, pertumbuhan ekonomi berpotensi terkoreksi.

“Investasi itu dihitung setiap tahun. Kalau konsisten meningkat, akan mendorong pertumbuhan. Tapi jika tahun depan tidak ada pembangunan lagi, tentu akan menurun,” pungkas Ridwan. (*)