MDA Tingkatkan Kapasitas Desa Tangguh Bencana di Latimojong

Berita, Daerah45 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Komitmen memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah Latimojong terus diwujudkan secara bertahap. Setelah sebelumnya menginisiasi pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA), PT Masmindo Dwi Area (MDA) bersama Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) kembali melaksanakan tahapan lanjutan berupa penguatan kelembagaan DESTANA dan simulasi kesiapsiagaan
bencana di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Program Jaga Keselamatan Desa, salah satu pilar dalam Program Jaga Desa, yang lahir dari aspirasi masyarakat
melalui FORDES MATAPPA. Program ini dirancang tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut hingga masyarakat memiliki kapasitas dan mekanisme yang siap dijalankan ketika menghadapi kondisi darurat.

Berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang berfokus pada pengenalan risiko bencana dan pembentukan kelembagaan DESTANA, kali ini masyarakat diajak
mempraktikkan secara langsung berbagai skenario penanganan bencana. Mulai dari pembagian peran pengurus DESTANA, penyusunan mekanisme koordinasi, penentuan titik kumpul dan lokasi pengungsian sementara, penyusunan jalur evakuasi, pemasangan rambu evakuasi, hingga simulasi komunikasi darurat sebagai bagian dari uji kesiapsiagaan masyarakat.

Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Luwu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Palang Merah
Indonesia (PMI), pemerintah desa, FORDES MATAPPA, Pusat Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo, serta
masyarakat dari kedua desa. Kolaborasi lintas pihak ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat apabila terjadi bencana.

Kepala Teknik Tambang (KTT) MDA, Mustafa Ibrahim, mengatakan bahwa kesiapsiagaan masyarakat tidak dibangun melalui teori semata, tetapi melalui latihan
dan simulasi sehingga setiap unsur di desa memahami peran dan tanggung jawabnya ketika menghadapi kondisi darurat.

“Tujuan kami bukan hanya membentuk kelembagaan DESTANA, tetapi memastikan kelembagaan tersebut benar-benar siap berfungsi ketika dibutuhkan. Karena itu, masyarakat kami libatkan langsung dalam simulasi, mulai dari mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul dan lokasi pengungsian, hingga membangun
koordinasi antarunsur desa. Harapannya, ketika terjadi kondisi darurat, masyarakat tidak lagi bingung harus berbuat apa karena mekanisme respons sudah dipahami
dan pernah dipraktikkan bersama,” ujar Mustafa.

Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Dr. Ichwan Muis, menjelaskan bahwa simulasi merupakan tahapan penting dalam memastikan sistem
kesiapsiagaan yang telah disusun dapat berjalan secara efektif.

“Tujuan kami bukan sekadar membentuk organisasi DESTANA, tetapi memastikan seluruh unsur di desa memahami fungsi dan tanggung jawabnya ketika menghadapi kondisi darurat. Simulasi menjadi media pembelajaran terbaik karena masyarakat
tidak hanya mengetahui teorinya, tetapi juga mengalami langsung proses koordinasi, evakuasi, dan pengambilan keputusan di lapangan,” jelasnya.

Kepala Desa Boneposi, M. Hamka, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan menilai pendekatan yang dilakukan tidak hanya menambah
pengetahuan masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi potensi bencana.

“Melalui simulasi ini masyarakat dapat memahami secara langsung apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, mulai dari mengenali jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, hingga memahami peran masing-masing dalam membantu proses evakuasi. Ini menjadi bekal yang sangat penting bagi masyarakat kami,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Desa Tolajuk, Badarudin mengatakan bahwa penguatan kelembagaan DESTANA memberikan fondasi yang lebih kuat bagi desa dalam
membangun kesiapsiagaan masyarakat.

“Kami mengapresiasi kolaborasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam kegiatan ini. Kehadiran DESTANA bukan hanya membentuk sebuah kelembagaan, tetapi juga membangun budaya gotong royong, koordinasi, dan kesiapsiagaan yang diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat,” katanya.

Program penguatan DESTANA sebelumnya telah dilaksanakan di Desa Bonelemo dan Ulusalu pada tahun 2025. Memasuki tahun 2026, kegiatan dilanjutkan di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk melalui rangkaian sosialisasi, penguatan kelembagaan, simulasi kesiapsiagaan, hingga pemasangan rambu evakuasi sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi bencana di tingkat desa.

Ke depan, program ini akan diperluas secara bertahap ke desa-desa lainnya di Kecamatan Latimojong berdasarkan hasil pemetaan risiko dan survei lapangan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan kelembagaan Desa Tangguh Bencana di wilayah
Latimojong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *