MDA Dorong Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat di Boneposi

Berita, Daerah149 Dilihat

Jpgluwu.com,com. LUWU – PT Masmindo Dwi Area (MDA) bersama Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) memperkuat upaya kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana melalui kegiatan Sosialisasi dan Inisiasi Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di Desa Boneposi, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Jumat (12/6/2026).

Kegiatan yang melibatkan Forum Desa (FORDES) MATAPPA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan
warga tersebut menjadi bagian dari pilar Jaga Keselamatan Desa dalam Program Jaga Desa yang diresmikan oleh Bupati Luwu, H. Patahudding, S.Ag pada tanggal 5 Juni 2026.

Program ini merupakan tindak lanjut atas aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui FORDES MATAPPA, khususnya terkait pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di wilayah Latimojong.

Dalam kegiatan tersebut, tim Pusat Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo memaparkan hasil penelitian dan pemetaan titik rawan bencana di Desa Boneposi, sekaligus memperkenalkan sistem informasi geospasial berbasis web (WebGIS) yang dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi dan pendukung upaya mitigasi bencana di tingkat desa. Kegiatan ini menjadi tahap awal dari rangkaian penguatan DESTANA di Boneposi.

Tahap berikutnya akan difokuskan pada penguatan kapasitas masyarakat dan
kelembagaan DESTANA melalui pelatihan kesiapsiagaan, penyusunan langkah mitigasi, serta simulasi dan uji fungsi DESTANA guna memastikan kesiapan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

“Kami melihat kesiapsiagaan bencana sebagai kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat Latimojong. Karena itu, melalui Program Jaga Desa, khususnya pilar Jaga Keselamatan Desa, kami bersama Pemerintah Kabupaten Luwu, FORDES, dan Universitas Cokroaminoto Palopo berupaya memastikan masyarakat memiliki kapasitas yang lebih baik untuk mengenali risiko, melakukan mitigasi, dan merespons
situasi darurat secara tepat,” ujar Mustafa.

“Bagi kami, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa aspirasi yang disampaikan masyarakat melalui FORDES tidak berhenti sebagai masukan, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi desa,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Dr. Ichwan Muis, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menghubungkan hasil
penelitian dan pengabdian perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.

“Sebagai perguruan tinggi, kami ingin memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Melalui kegiatan ini, hasil pemetaan risiko bencana dikembalikan kepada masyarakat untuk dipahami, diverifikasi, dan dimanfaatkan sebagai dasar penguatan kesiapsiagaan desa. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, MDA, dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana,” jelas Dr. Ichwan.

Kepala Desa Boneposi, M. Hamka, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan
tersebut dan berharap program penguatan DESTANA dapat terus berlanjut melalui berbagai kegiatan lanjutan yang melibatkan masyarakat secara aktif.

“Kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat mengenai potensi risiko bencana di desa kami. Harapan kami, program ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi terus berlanjut melalui pelatihan, simulasi, dan penguatan kelembagaan DESTANA sehingga masyarakat semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi,” ujarnya.

Program penguatan DESTANA sebelumnya telah dilaksanakan di Desa Bonelemo dan Ulusalu pada tahun 2025. Pada tahun 2026, kegiatan dilanjutkan di Desa Boneposi dan dalam waktu dekat akan diperluas ke desa-desa lainnya di Kecamatan Latimojong berdasarkan hasil pemetaan risiko dan survei lapangan.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan kelembagaan Desa Tangguh Bencana di wilayah Latimojong.