Jpgluwu.com, LUWU – Di sebuah rumah sederhana berdinding kayu di Dusun Grampa, Desa Komba, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, waktu seakan berjalan lebih lambat bagi Imel (32).
Sebagian besar harinya dihabiskan di atas sebuah ranjang kayu yang sudah tua.
Bukan karena Imel memilih untuk berdiam diri. Kondisi tubuh dan penyakit yang dideritanya membuat ruang geraknya semakin terbatas. Untuk sekadar bangun dari tempat tidur pun membutuhkan tenaga.
Di rumah itulah Imel menjalani hari bersama anak semata wayangnya, Rian, yang kini duduk di bangku kelas satu SMA 3 Luwu, Kecamatan Larompong.
Mereka tidak memiliki rumah sendiri.
Ibu dan anak ini hanya menumpang di rumah keluarga yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Rumah itu sederhana. Dindingnya terbuat dari kayu yang sebagian mulai lapuk dan dimakan rayap. Lantainya hanya berupa semen kasar yang sebagian ditutupi plastik yang sudah mulai sobek.
Tidak ada perabot mewah. Di dapur, hanya terdapat peralatan memasak dan perlengkapan makan seadanya.
Namun, di rumah sederhana itulah Imel dan Rian mempertahankan kehidupan mereka hari demi hari.
Salah satu kerabat keluarga, Carlos, menceritakan bahwa kehidupan Imel berubah sejak suaminya pergi ketika Rian masih kecil.
Sejak saat itu, Imel menjalani kehidupan sebagai ibu sekaligus tumpuan utama bagi anaknya. Tahun-tahun dilalui dengan segala keterbatasan.
Kini, ketika Rian mulai memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah atas, keadaan justru semakin berat. Imel tidak lagi mampu bekerja karena kondisi kesehatannya.
Carlos mengatakan, aktivitas Imel kini sangat terbatas.
“Imel lebih banyak terbaring di tempat tidur,” kata Carlos.
Sesekali Imel berusaha bangun dari ranjang kayu yang sudah usang itu. Namun, kondisi fisiknya membuat ia tidak dapat beraktivitas secara leluasa.
Hari-harinya kini lebih banyak dihabiskan dengan berbaring dan bergantung pada bantuan keluarga serta Rian.
Kondisi kesehatan Imel semakin memprihatinkan.
Menurut Carlos, Imel sebelumnya sempat memeriksakan kondisi kesehatannya. Dari pemeriksaan tersebut, Imel disebut didiagnosis mengalami penyakit jantung dan paru-paru.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir.
Imel memang memiliki BPJS Kesehatan. Namun, kepemilikan kartu jaminan kesehatan itu belum serta-merta membuat pengobatan menjadi mudah bagi keluarga.
Ada kebutuhan lain yang harus dipikirkan, termasuk biaya transportasi dan kebutuhan selama menjalani pengobatan.
Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, biaya-biaya tersebut menjadi persoalan tersendiri.
Keluarga juga mengaku khawatir jika dalam proses pengobatan terdapat kebutuhan yang tidak mampu mereka penuhi.
Akibat keterbatasan tersebut, Imel kini lebih banyak berada di rumah. Berbaring di ranjang tua menjadi rutinitas yang harus dijalaninya.
Bukan karena menyerah pada keadaan, tetapi karena pilihan yang tersedia bagi dirinya memang semakin sedikit.
Persoalan kesehatan bukan satu-satunya beban yang dihadapi keluarga ini.
Kondisi ekonomi mereka juga semakin sulit setelah bantuan Program Keluarga Harapan atau PKH yang sebelumnya pernah diterima Imel kini tidak lagi didapatkan.
“Imel dulu pernah menerima bantuan PKH. Namun, belakangan bantuan tersebut sudah tidak diterimanya lagi,” ungkap Carlos.
Rian yang masih berstatus sebagai pelajar juga disebut tidak lagi mendapatkan bantuan dari sekolah.
Situasi tersebut membuat keluarga harus bertahan dengan kemampuan yang sangat terbatas.
Keluarga tempat Imel dan Rian menumpang pun bukan keluarga yang memiliki penghasilan tetap.
Dia juga telah lama ditinggal suaminya dan tidak memiliki pekerjaan dengan pendapatan yang dapat diandalkan.
Kebutuhan sehari-hari hanya dipenuhi sebisanya, ditambah bantuan sosial yang diterima keluarga.
Namun, jumlah bantuan tersebut dirasakan belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, kepedulian tetangga dan kerabat menjadi penyambung hidup.
Sesekali ada tetangga atau keluarga yang datang membawa beras, sembako atau kebutuhan dapur lainnya.
Bantuan itu mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, sebungkus beras atau bahan makanan dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Di tengah kondisi ibunya yang sakit, Rian tetap berusaha menjalani kehidupan sebagai seorang pelajar.
Sekolah menjadi salah satu harapan yang masih ia pertahankan.
Jarak dari rumah menuju sekolahnya sekitar lima kilometer.
Jika mendapatkan tumpangan dari teman, perjalanan ke sekolah menjadi lebih mudah.
Namun ketika tidak ada kendaraan atau tidak memiliki uang untuk ongkos, Rian harus berjalan kaki.
Panas matahari bukan alasan untuk berhenti. Lima kilometer ditempuh dengan berjalan kaki.
Jika pulang dengan cara yang sama, total jarak yang harus dilaluinya mencapai sekitar 10 kilometer dalam sehari.
Tidak setiap hari Rian membawa uang jajan ke sekolah. Kondisi ekonomi keluarga membuat uang saku bukan sesuatu yang selalu tersedia. Bagi Rian, yang terpenting adalah tetap bisa bersekolah.
Ia tahu, pendidikan mungkin menjadi salah satu jalan yang dapat membawanya keluar dari kehidupan sulit yang selama ini dijalani bersama ibunya.
Di sekolah, Rian mungkin terlihat seperti siswa lainnya. Mengenakan seragam, mengikuti pelajaran dan bergaul dengan teman-temannya. Namun, kehidupannya di rumah berbeda.
Ada seorang ibu yang sedang sakit dan sebagian besar waktunya hanya dapat dihabiskan di atas ranjang.
Ada rumah keluarga yang menjadi tempat mereka menumpang.
Ada kebutuhan sehari-hari yang harus dipikirkan.
Dan ada masa depan yang harus diperjuangkan.
Karena itu, perjalanan Rian menuju sekolah bukan sekadar perjalanan seorang siswa menuju ruang kelas.
Setiap langkahnya menyimpan perjuangan.
Lima kilometer ketika berangkat.
Lima kilometer ketika pulang. Sepuluh kilometer jika tidak mendapatkan tumpangan.
Namun, di ujung perjalanan itu ada sesuatu yang ingin ia pertahankan: kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
Rumah tempat Imel dan Rian tinggal menjadi saksi bagaimana sebuah keluarga bertahan dalam keterbatasan.
Dinding kayu yang mulai dimakan rayap berdiri sebagai pelindung mereka dari panas dan hujan.
Lantai semen kasar ditutupi plastik yang sudah sobek di sejumlah bagian.
Tidak ada barang mahal di dalam rumah.
Di dapur, peralatan masak dan makan tersusun seadanya.
Tidak banyak yang bisa ditawarkan rumah tersebut. Tetapi di sanalah Imel berbaring.
Di sanalah Rian pulang setelah berjalan kaki dari sekolah. Dan di sanalah keduanya berbagi kehidupan yang tidak selalu mudah.
Bagi Rian, rumah itu adalah tempat seorang ibu menunggunya.
Bagi Imel, rumah itu adalah tempat ia berharap anak semata wayangnya tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Di tengah kesulitan tersebut, Imel dan Rian masih memiliki orang-orang yang peduli.
Tetangga dan kerabat menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Bantuan tidak selalu datang dalam bentuk uang.
Kadang berupa beras.
Kadang bahan makanan.
Kadang sekadar membantu kebutuhan sehari-hari. Bagi keluarga lain, bantuan seperti itu mungkin terlihat kecil.
Namun bagi Imel dan Rian, bantuan tersebut memiliki arti besar.
Sebab ketika penghasilan tidak tetap, bantuan sembako dapat menentukan apakah dapur hari itu bisa kembali mengepul atau tidak.
Ketika seorang ibu tidak mampu beraktivitas, kepedulian orang lain dapat menjadi kekuatan untuk bertahan.
Kisah Imel dan Rian bukan sekadar cerita tentang kemiskinan.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang menghadapi keterbatasan kesehatan, seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah sejak kecil, dan sebuah keluarga yang berusaha bertahan meski kemampuan mereka juga terbatas.
Rian masih memiliki jalan panjang di depan.
Ia baru memasuki kelas satu SMA.
Masih ada waktu baginya untuk menyelesaikan pendidikan, meraih cita-cita dan membangun masa depan.
Namun perjalanan itu tentu tidak mudah.
Di rumah, ada ibu yang membutuhkan perhatian.
Di sekolah, ada kebutuhan pendidikan.
Di tengah keduanya, ada persoalan ekonomi yang harus mereka hadapi setiap hari.
Tetapi Rian tetap berjalan.
Ketika ada tumpangan, ia menumpang.
Ketika tidak ada, ia melangkahkan kaki.
Lima kilometer menuju sekolah.
Lima kilometer kembali ke rumah.
Sementara di rumah, seorang ibu menunggunya di atas ranjang kayu yang semakin tua.
Di balik dinding kayu yang mulai dimakan rayap itu, masih tersimpan harapan.
Harapan Imel agar anaknya dapat terus sekolah.
Harapan Rian agar suatu hari ia mampu mengubah kehidupan keluarganya.
Dan harapan sederhana agar ibunya dapat kembali mendapatkan perawatan yang layak.
Bagi mereka, bantuan bukan sekadar soal materi.
Bantuan adalah kesempatan untuk bertahan, kesempatan untuk berobat, dan kesempatan bagi Rian untuk terus melangkah mengejar masa depan.
