Imel Hidup dalam Keterbatasan, RSUD Batara Guru Siap Jemput untuk Berobat

Berita, Daerah119 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Kepedulian terhadap warga kurang mampu yang tengah menghadapi persoalan kesehatan ditunjukkan Direktur RSUD Batara Guru Belopa, dr. Daud Mustaqim.

dr. Daud turun langsung mengunjungi Imel, warga Dusun Grampa, Desa Komba, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang diketahui telah lama menderita sakit dan hidup dalam keterbatasan ekonomi, Rabu, 16 September 2026.

Dalam kunjungan tersebut, dr. Daud datang untuk melihat langsung kondisi Imel sekaligus memberikan bantuan kepada keluarga.

Bantuan yang diberikan berupa sembako dan uang tunai.

“Bantuannya tidak seberapa, namun kami berharap bisa sedikit meringankan beban dari keluarga Ibu Imel,” ujar dr. Daud.

Tak hanya memberikan bantuan, dr. Daud juga memastikan kondisi kesehatan Imel. Setelah dilakukan pemeriksaan, Imel disebut mengalami sejumlah penyakit komplikasi, di antaranya diabetes, jantung dan obesitas.

“Hari ini kami turun sekalian memastikan kondisi yang dialami Ibu Imel,” kata dr. Daud.

Ia juga memastikan RSUD Batara Guru akan membantu proses perawatan Imel.

“Rencana berikutnya kami akan jemput Ibu Imel untuk melakukan kontrol di RSUD Batara Guru Belopa,” lanjutnya.

Kisah kehidupan Imel dan anak semata wayangnya, Rian, menggambarkan beratnya perjuangan keluarga yang hidup dalam keterbatasan.

Imel tidak memiliki rumah sendiri. Bersama Rian, ia kini menumpang di rumah kerabat di Dusun Grampa.

Rumah yang mereka tempati sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari kayu, sebagian mulai lapuk dan dimakan rayap. Lantainya berupa semen kasar dan pada sejumlah bagian ditutupi plastik yang sudah mulai sobek.

Tidak terdapat perabot mewah di dalam rumah tersebut. Di dapur hanya terlihat peralatan memasak dan perlengkapan makan seadanya.

Di rumah sederhana itulah Imel menjalani hari-harinya bersama Rian, yang kini duduk di bangku kelas satu SMA 3 Luwu, Kecamatan Larompong.

Salah seorang kerabat keluarga, Carlos, menceritakan bahwa kehidupan Imel berubah sejak suaminya pergi ketika Rian masih kecil.

Sejak saat itu, Imel menjalani kehidupan sebagai seorang ibu sekaligus tumpuan utama bagi anaknya.

Namun kondisi kesehatan yang semakin menurun membuat Imel kini tidak lagi mampu bekerja seperti sebelumnya.

“Imel lebih banyak terbaring di tempat tidur,” kata Carlos.

Sesekali Imel berusaha bangun dari ranjang kayu yang sudah usang. Namun kondisi fisiknya membuat aktivitas sehari-hari menjadi sangat terbatas.

Menurut Carlos, Imel sebelumnya sempat menjalani pemeriksaan kesehatan. Dari pemeriksaan tersebut, keluarga mendapat informasi bahwa Imel mengalami gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung dan paru-paru.

Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir.

Imel memang telah memiliki BPJS Kesehatan. Namun, keterbatasan ekonomi membuat keluarga tetap menghadapi berbagai kendala dalam proses pengobatan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Kini, perhatian terhadap kondisi kesehatan Imel mendapat tindak lanjut dari RSUD Batara Guru Belopa.

Dengan rencana penjemputan untuk menjalani kontrol, keluarga berharap kondisi kesehatan Imel dapat kembali mendapatkan penanganan medis secara lebih teratur.

Persoalan yang dihadapi keluarga Imel bukan hanya soal kesehatan.

Carlos mengatakan, Imel sebelumnya pernah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun belakangan bantuan tersebut tidak lagi diterimanya.

“Imel dulu pernah menerima bantuan PKH. Namun, belakangan bantuan tersebut sudah tidak diterimanya lagi,” ungkap Carlos.

Rian yang masih berstatus sebagai pelajar juga disebut tidak lagi mendapatkan bantuan dari sekolah.

Kondisi tersebut membuat keluarga harus bertahan dengan kemampuan yang sangat terbatas.

Keluarga tempat Imel dan Rian menumpang juga hidup dalam kondisi ekonomi yang terbatas dan tidak memiliki penghasilan tetap.

Dalam kesehariannya, kebutuhan keluarga dipenuhi sebisanya dengan mengandalkan bantuan kerabat maupun tetangga.

Sesekali ada warga yang datang membawa beras, sembako atau kebutuhan dapur lainnya.

Bagi sebagian orang, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang berada dalam kondisi seperti Imel, bantuan berupa bahan makanan dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Di tengah kondisi ibunya yang sakit, Rian tetap berusaha menjalani kehidupannya sebagai seorang pelajar.

Sekolah menjadi harapan yang terus dipertahankannya.

Jarak dari rumah menuju sekolah sekitar lima kilometer. Ketika mendapatkan tumpangan dari teman, perjalanan menjadi lebih mudah.

Namun ketika tidak ada kendaraan atau tidak memiliki uang untuk ongkos, Rian harus berjalan kaki.

Lima kilometer ditempuhnya dengan berjalan kaki untuk sampai ke sekolah.

Jika harus berjalan kaki ketika pulang, total jarak yang ditempuh Rian dapat mencapai sekitar 10 kilometer dalam sehari.

Tidak setiap hari ia membawa uang jajan ke sekolah. Kondisi ekonomi keluarga membuat uang saku bukan sesuatu yang selalu tersedia.

Bagi Rian, yang terpenting adalah tetap bisa bersekolah.

Di rumah, ada seorang ibu yang sakit dan sebagian besar waktunya hanya dapat dihabiskan di atas ranjang.

Di sisi lain, Rian harus tetap belajar dan menjalani pendidikan seperti anak-anak seusianya.

Ketika mendapat tumpangan, ia menumpang. Ketika tidak ada, ia berjalan.

Lima kilometer menuju sekolah, dan lima kilometer kembali ke rumah.

Rumah tempat Imel dan Rian menumpang menjadi saksi bagaimana keduanya bertahan dalam keterbatasan.

Dinding kayu yang mulai dimakan rayap menjadi pelindung dari panas dan hujan.

Lantai semen kasar ditutupi plastik yang sudah sobek di sejumlah bagian.

Tidak banyak barang berharga di dalam rumah. Di dapur, peralatan memasak dan makan tersusun seadanya.

Namun rumah sederhana itu tetap menjadi tempat Imel berbaring dan menunggu anaknya pulang dari sekolah.

Di sanalah Rian kembali setelah menempuh perjalanan menuju sekolah.

Di sanalah ibu dan anak tersebut menjalani kehidupan sehari-hari, berbagi harapan di tengah berbagai keterbatasan.

Bagi Rian, rumah tersebut adalah tempat seorang ibu menunggunya.

Bagi Imel, rumah itu menjadi tempat ia berharap anak semata wayangnya tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Kisah Imel dan Rian bukan sekadar cerita tentang keterbatasan ekonomi. Ini adalah kisah seorang ibu yang tengah menghadapi persoalan kesehatan, seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah sejak kecil, serta keluarga yang terus berusaha bertahan dengan kemampuan yang mereka miliki.

Kini, setelah kunjungan Direktur RSUD Batara Guru Belopa, ada harapan baru bagi Imel untuk mendapatkan penanganan kesehatan yang lebih baik.

Sementara bagi Rian, perjalanan panjang menuju sekolah masih akan terus dilaluinya.

Ketika ada tumpangan, ia menumpang. Ketika tidak ada, ia melangkahkan kaki. Lima kilometer menuju sekolah. Lima kilometer kembali ke rumah.

Di ujung perjalanan itu, ada pendidikan yang ingin ia pertahankan dan masa depan yang masih ingin ia perjuangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *