Diajari Hitung HPP, Misbahul Kini Lebih Paham Mengelola Usaha

Berita, Daerah35 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Misbahul Umam, pemilik depot air minum Mario Water di Desa Kadong-kadong, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, baru menyadari kekeliruan yang selama ini ia lakukan dalam mengelola usahanya.

Sejak merintis usaha pada 2020, ia selalu mencampur uang usaha dengan uang pribadi.

Kebiasaan itu ternyata keliru, menurut akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), Naufal Muhammad Aksah.

Kesadaran itu muncul setelah Misbahul mengikuti pelatihan Resota UMKM 2026 yang digelar PT Masmindo Dwi Area (MDA) di Hotel Borneo, Kota Belopa, pada 22-26 September 2026.

Pelatihan ini diikuti 42 pelaku UMKM dari 21 desa di wilayah operasional MDA di Kabupaten Luwu.

“Saya baru tahu, masalah yang selama ini saya lakukan mencampuradukkan uang usaha dan uang pribadi, sehingga tidak ada pencatatan keuangan. Padahal idealnya tidak boleh,” kata Misbahul, Jumat (2/10/2026).

Selain materi yang diperoleh, Misbahul mengaku senang dengan fasilitas yang disediakan panitia selama pelatihan berlangsung.

“Sukanya, kami pelatihan dengan mendapatkan fasilitas di aula Hotel Borneo yang nyaman karena ber-AC. Kemudian makan dua kali coffee break dan makan siang,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Misbah ini menyebut materi arus kas (cash flow) sangat relevan dengan kebutuhan usahanya.

“Peserta tidak hanya diberi konsep, tetapi juga diajari cara menerapkannya secara teknis. Itu relevan dengan kebutuhan para pelaku UMKM saat ini,” bebernya.

Selain arus kas, peserta juga mendapat materi pondasi usaha, pondasi keuangan, branding, pemasaran dan promosi, serta pengurusan berbagai izin dan sertifikasi.

Pelatihan ini diselenggarakan MDA bersama Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Luwu.

MDA turut menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas dan FEB Universitas Muhammadiyah Palopo sebagai mitra.

Belajar Hitung HPP dari Galon

Misbah menyebut materi arus kas disampaikan oleh Naufal Muhammad Aksah, dosen Departemen Ilmu Ekonomi Unhas.

Naufal mengajari peserta hingga ke tahap teknis, tidak hanya sebatas teori.

Masmindo mendatangkan Naufal karena rekam jejak dan gagasannya yang telah dituangkan dalam sejumlah jurnal ilmiah.

Di bidang pemberdayaan UMKM, nama Naufal tercantum bersama tim dosen Unhas dalam artikel pengabdian masyarakat tentang digitalisasi dan pemberdayaan UMKM di Desa Sipodeceng.

Artikel tersebut terbit di Celebes Journal of Community Services pada 2025.

Menurut Misbah, Naufal menjelaskan cara menghitung harga pokok produksi (HPP), yakni total biaya untuk menghasilkan satu produk sebelum ditambah keuntungan.

Usaha Misbahul sendiri, yaitu air minum isi ulang dalam galon, dijadikan contoh kasus dalam materi tersebut.

Masih Menunggu Pengumuman

Misbahul belum mengetahui apakah usahanya masuk daftar sepuluh UMKM terpilih dari pelatihan ini.

“Terkait masuk 10 besar atau tidak, kami semua peserta masih menunggu,” ujarnya.

Sepuluh UMKM terpilih nantinya akan mendapat paket bantuan modal dari MDA.

Misbahul pun sudah menyiapkan rencana jika usahanya lolos masuk sepuluh besar.

“Rencana penggunaan modal jika lolos 10 besar, saya ingin menggunakan dana tersebut untuk upgrade kendaraan operasional saya, dari roda dua ke roda empat. Mengingat selama ini saya mengantar galon menggunakan motor,” terangnya.

Namun, ia juga menyiapkan rencana cadangan apabila dana bantuan tidak mencukupi untuk membeli kendaraan roda empat.

“Tapi jika tidak memungkinkan, saya ingin diversifikasi saja ke usaha es kristal dengan membeli mesin es tersebut. Namun sumber airnya tetap depot galon saya,” ujarnya.

Setelah pelatihan berakhir, MDA akan memantau perkembangan UMKM bersama Forum Desa (Fordes) Matappa.