Cinta Tanpa Lelah Kisah Orang Tua yang Tak Pernah Menyerah Merawat Aswan

Berita, Daerah111 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWU – Matahari belum sepenuhnya terbit ketika aroma kue yang baru matang memenuhi sebuah rumah kontrakan sederhana di Kelurahan Sabe, Kecamatan Belopa.

Di sudut ruangan, seorang ibu dengan cekatan menata dagangannya. Di sampingnya, sang suami bersiap membawa kue-kue itu ke pinggir jalan, berharap pagi akan menghadirkan pembeli yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun sebelum melangkah keluar rumah, keduanya selalu melakukan satu hal yang sama.

Mereka menghampiri Muhammad Aswan. Anak laki-laki yang lahir pada tahun 2014 itu terbaring di atas kasur sederhana. Matanya terbuka, menatap langit-langit rumah dengan tatapan yang sulit dimengerti. Sesekali jemarinya bergerak pelan, seolah ingin meraih sesuatu yang hanya ia rasakan sendiri.

Sang ibu membelai rambutnya dengan lembut.

“Ayah sebentar cari rezeki dulu ya, Nak,” bisiknya.

Tak ada jawaban. Tak ada senyum. Tak ada kata-kata.

Yang ada hanyalah keheningan yang setiap hari menemani keluarga kecil itu.

Tidak ada orang tua yang membayangkan anaknya akan menghabiskan masa kecil hanya dengan berbaring di atas tempat tidur.

Dulu, Aswan tumbuh seperti anak-anak lain. Ia bermain, tertawa, dan menjadi sumber kebahagiaan keluarga.

Namun pada 2017, sebuah penyakit mengubah seluruh hidupnya.

Menurut keluarga, Aswan didiagnosis mengalami epilepsi. Sejak saat itu, kondisinya perlahan berubah. Kemampuan berjalan menghilang, suara yang dulu memenuhi rumah tak lagi terdengar, dan seluruh aktivitasnya bergantung pada kedua orang tuanya.

Harapan sempat tumbuh ketika mereka membawa Aswan menjalani perawatan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin di Makassar.

Setiap perjalanan menuju rumah sakit dipenuhi doa. Setiap pemeriksaan menjadi harapan baru.

Tetapi waktu berjalan tanpa membawa keajaiban yang mereka nantikan.

Aswan tetap membutuhkan perawatan penuh selama dua puluh empat jam setiap hari.

Keluarga ini pernah mencoba bertahan di Makassar. Namun biaya hidup yang terus meningkat membuat mereka tidak lagi mampu bertahan. Dengan berat hati, mereka memutuskan kembali ke Kabupaten Luwu dan menyewa sebuah rumah kontrakan sederhana di Kelurahan Sabe Kecamatan Belopa Utara.

Mereka memulai semuanya dari awal. Setiap pagi, kedua orang tua Aswan berjualan kue di pinggir jalan.

Mereka tidak memiliki toko besar, tidak pula modal yang melimpah. Yang mereka miliki hanyalah harapan bahwa kue-kue yang mereka jajakan akan habis terjual sebelum siang tiba.

Sebab setiap lembar uang yang mereka peroleh sudah memiliki tujuan.
Untuk membeli susu.
Untuk membeli popok.
Untuk membeli obat.
Untuk membayar kontrakan.
Dan untuk memastikan Aswan tetap bisa dirawat dengan layak.

Sering kali hasil jualannya tidak seberapa.
Ada hari ketika dagangan tidak habis, sementara kebutuhan Aswan tidak pernah bisa ditunda.

Di tengah perjuangan itu, keluarga ini juga menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Aswan adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakak pertamanya telah lebih dahulu meninggal dunia, meninggalkan duka yang masih membekas di hati kedua orang tuanya.

Kini seluruh kasih sayang mereka tercurah untuk menjaga Aswan dan membesarkan anak-anak lainnya di tengah segala keterbatasan.

Malam bagi keluarga ini bukan waktu untuk beristirahat sepenuhnya. Mereka harus beberapa kali terbangun untuk memeriksa kondisi Aswan, mengganti popoknya, memastikan tubuhnya tetap bersih dan nyaman, lalu menenangkannya ketika kondisinya berubah.

Rutinitas itu berlangsung setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, bahkan bertahun-tahun tanpa jeda.
Tidak ada hari libur bagi kasih sayang seorang ibu.
Tidak ada kata menyerah bagi cinta seorang ayah.

Di rumah kontrakan yang sederhana itu, kemewahan bukanlah impian. Mereka hanya ingin Aswan memiliki susu yang cukup, popok yang selalu tersedia, obat yang tidak pernah terputus, dan kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

Dengan mata yang berkaca-kaca, keluarga itu menyampaikan harapan yang sangat sederhana.

“Mohon perhatian dari pemerintah, instansi terkait, dan para dermawan. Kami hanya ingin kebutuhan Aswan bisa terpenuhi agar ia tetap mendapatkan perawatan yang layak.”

Permintaan itu terdengar begitu sederhana. Namun bagi keluarga kecil ini, bantuan sekecil apa pun bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan menjalani hari esok.

Kisah Muhammad Aswan bukan sekadar cerita tentang seorang anak penyandang disabilitas.

Ini adalah kisah tentang dua orang tua yang setiap pagi menjajakan harapan bersama kue-kue di pinggir jalan.

Tentang tangan seorang ibu yang tak pernah lelah mengusap wajah anaknya.

Tentang seorang ayah yang terus mencari nafkah meski pikirannya tak pernah jauh dari rumah.

Dan tentang sebuah keluarga yang memilih tetap kuat meski hidup berkali-kali menguji mereka.

Di balik dinding rumah kontrakan yang sederhana itu, cinta masih tumbuh dengan sangat besar.

Cinta yang tidak meminta balasan apa pun, selain satu harapan kecil: agar Muhammad Aswan dapat terus menjalani hidup dengan layak, ditemani kepedulian dari mereka yang masih percaya bahwa kemanusiaan adalah tentang saling menguatkan ketika satu keluarga tidak lagi mampu memikul beban sendirian.