Anak Yatim yang Tak Pernah Menyerah, Kini Mampu Membahagiakan Ibunya

Berita, Daerah219 Dilihat

Jpgluwu.com, LUWUMatahari belum sepenuhnya meninggi ketika sebuah sepeda motor melaju meninggalkan Kelurahan Noling, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu.

Di balik helm kuning dan seragam kerja khas tambang yang dikenakannya, tak banyak orang mengetahui bahwa pemuda itu pernah menjalani hidup yang begitu berat.

Namanya Andi Ansar, akrab dipanggil Anca. Hari ini ia bekerja sebagai spotter di Awak Mas Project PT Masmindo Dwi Area, perusahaan tambang emas yang beroperasi di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu.

Setiap hari ia memandu dan mengarahkan pergerakan kendaraan atau alat berat—seperti truk jungkit (dump truck) dan ekskavator di area yang terbatas atau rawan, untuk memastikan keselamatan dan mencegah tabrakan atau memastikan pekerjaan berlangsung aman dan sesuai prosedur.

Namun pekerjaan itu hanyalah babak baru dari perjalanan hidup yang panjang.

Di balik senyumnya yang tenang, di usianya yang kini 24 tahun tersimpan kisah tentang seorang anak yatim yang tumbuh dalam keterbatasan, berkali-kali ditolak ketika mencari pekerjaan, namun memilih bangkit setiap kali hidup menjatuhkannya.

Anca adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, Ia masih mengingat jelas hari ketika hidup keluarganya berubah.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ayah yang menjadi sandaran keluarga meninggal dunia. Sejak hari itu, rumah mereka terasa berbeda.

Mengenang masa kecilnya, Anca mengaku kehilangan sosok ayah menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

“Waktu ayah meninggal saya masih SD. Sejak saat itu saya sadar, saya harus belajar mandiri. Saya tidak mau melihat ibu berjuang sendirian,” tutur Anca.

Tak ada lagi sosok ayah yang membangunkan anak-anaknya di pagi hari. Tak ada lagi tangan yang menggandeng menuju sekolah. Tak ada lagi tempat bersandar ketika masalah datang.

Yang tersisa hanyalah seorang ibu yang harus memikul beban sebagai kepala keluarga sekaligus menjadi ibu bagi ketiga anaknya.

Melihat ibunya berjuang seorang diri membuat Anca tumbuh lebih cepat dibanding anak-anak seusianya.

Ia belajar memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Namun dari kehilangan itu, ia menemukan pelajaran terbesar dalam hidupnya, bahwa hidup tidak akan pernah berubah hanya dengan mengeluh.

Memasuki bangku SMA, ketika teman-teman sebayanya menikmati masa remaja dengan bermain atau berkumpul selepas sekolah, Anca memilih jalan yang berbeda.

Sepulang sekolah, ia menuju sebuah bengkel. Di sana ia bekerja hingga sore bahkan malam, Anca mengaku tak pernah merasa malu.

“Saya berpikir, lebih baik capek bekerja daripada hanya mengeluh. Yang penting saya bisa membantu ibu dan tetap sekolah,” katanya.

Tangannya yang seharusnya sibuk membalik halaman buku pelajaran justru lebih sering memegang kunci pas, obeng, dan peralatan servis.

Bau oli menjadi bagian dari kesehariannya. Tangannya sering kali menghitam oleh pelumas.

Namun ia tidak pernah merasa malu. Baginya, pekerjaan itu bukan sekadar mencari uang, pekerjaan itu adalah cara seorang anak membantu ibunya bertahan hidup.

Upah yang diterimanya memang tidak besar, tetapi cukup untuk membeli kebutuhan sekolah dan sedikit meringankan beban sang ibu.

Perjuangan itu berlanjut ketika ia berhasil diterima di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa bukan berarti hidupnya menjadi lebih mudah, sebaliknya, tantangan justru semakin besar.

Biaya kuliah, buku, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan usaha sendiri.

Anca tidak ingin kuliahnya berhenti hanya karena persoalan ekonomi. Ia kemudian memanfaatkan kemampuan desain grafis yang dimilikinya.

Berbekal sebuah komputer sederhana, ia menerima berbagai pesanan pembuatan stiker motor, desain spanduk, banner, hingga kebutuhan promosi lainnya.

Ketika pesanan desain sedang sepi, ia berjualan minuman ringan. Hampir tidak ada hari yang benar-benar ia habiskan untuk bersantai.

Baginya, kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

“Kadang siang saya desain, sore jualan minuman. Kalau ada pekerjaan apa saja yang halal, saya kerjakan. Yang penting kuliah saya tetap jalan,” ujarnya.

Di saat mahasiswa lain menikmati akhir pekan bersama teman-teman, Anca justru sibuk mengejar pelanggan agar uang kuliahnya tetap tersedia.

Pendapatannya saat itu jauh di bawah Upah Minimum Regional, namun ia tidak pernah mempermasalahkannya, karena setiap rupiah yang masuk ke sakunya adalah hasil dari keringatnya sendiri.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen, Anca kembali memulai perjuangan baru.

Ia mulai mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan, sambil menunggu kesempatan, ia juga bergabung menjadi bagian dari penyelenggara pemilu di KPU dan Bawaslu.

Selama kurang lebih dua tahun, ia bertugas di bidang administrasi dan koordinasi, pengalaman itu memberinya banyak pelajaran tentang disiplin, tanggung jawab, serta bekerja dalam sebuah sistem.

Namun pengalaman dan ijazah ternyata belum cukup, lamaran demi lamaran dikirim, harapan demi harapan dibangun.

Tetapi jawaban yang datang justru lebih sering berupa penolakan. Salah satu penolakan yang paling ia ingat datang dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang.

Saat pertama kali melamar, ia dinyatakan tidak lolos. Ia gagal. Rasa kecewa tentu ada, tetapi ia tidak membiarkan kegagalan menjadi akhir dari perjuangannya.

Penolakan itu sempat membuatnya kecewa. Namun ia memilih bangkit dan mencoba lagi.

“Saya memang kecewa waktu pertama kali tidak diterima. Tapi saya percaya mungkin saat itu saya hanya belum mendapat kesempatan. Jadi saya mencoba lagi,” ungkapnya.

Ia memilih mencoba lagi. Kali ini tanpa mempersoalkan jabatan.

Tanpa memikirkan apakah pekerjaannya sesuai dengan gelar sarjana yang dimilikinya.

Ia rela mengesampingkan pengalaman administrasi yang telah dimiliki demi memperoleh satu kesempatan masuk ke perusahaan.

Baginya, pintu sekecil apa pun tetap layak diperjuangkan. Kesempatan itu akhirnya datang.

Ia diterima sebagai spotter, posisi yang oleh sebagian orang mungkin dianggap sebagai pekerjaan non-skill.

Namun bagi Anca, tidak ada pekerjaan yang rendah, yang ada hanyalah kesempatan untuk belajar dan membuktikan kemampuan.

“Saya tidak pernah melihat jabatan. Bagi saya yang penting diberi kesempatan bekerja. Dari situ saya bisa belajar, berkembang, dan membuktikan kemampuan saya,” kata Anca.

Ia menjalani setiap tugas dengan penuh tanggung jawab. Baginya, bekerja adalah bentuk rasa syukur.

Hari pertama menerima gaji di Awak Mas Project menjadi momen yang tak pernah ia lupakan.

Pendapatan yang jauh lebih baik perlahan mengubah kehidupan keluarganya, kebutuhan sehari-hari yang dulu selalu menjadi kekhawatiran mulai dapat dipenuhi.

Ia bisa membantu ibunya dengan lebih layak, sedikit demi sedikit kehidupan keluarganya berubah.

“Hal yang paling membahagiakan bagi saya bukan saat menerima gaji pertama, tetapi ketika saya bisa memberikan hasil kerja saya kepada ibu. Rasanya semua perjuangan selama ini terbayar,” ucapnya.

Kini ia tidak lagi sekadar bertahan hidup. Ia mulai menata masa depan.

Ketika mengenang masa lalunya, Anca tidak pernah malu bercerita bahwa ia pernah menjadi montir bengkel, freelancer desain grafis, penjual minuman ringan, hingga petugas administrasi penyelenggara pemilu.

Semua pekerjaan itu, menurutnya, telah menempa mental dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh.

“Tidak ada pekerjaan yang hina. Yang ada hanyalah orang yang berhenti berusaha,” menjadi prinsip yang terus ia pegang.

Baginya, keberhasilan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, melainkan siapa yang mampu tetap berdiri setiap kali hidup menjatuhkannya.

Kini, setiap kali berangkat bekerja menuju kawasan tambang di Latimojong, Anca selalu mengingat perjalanan panjang yang telah dilaluinya.

“Saya percaya setiap orang punya waktunya masing-masing. Selama kita mau bekerja keras, terus belajar, dan tidak menyerah, pasti Allah akan membukakan jalan,” tuturnya.

Ia pernah menjadi anak yang kehilangan ayah ketika masih kecil, pernah bekerja di bengkel demi tetap bersekolah, pernah menjual desain dan minuman ringan agar kuliahnya tidak berhenti, pernah berkali-kali ditolak ketika mencari pekerjaan.

Namun semua itu tidak pernah membuatnya berhenti bermimpi.

Di balik semua perjuangan itu, ada satu impian yang selalu ia simpan dalam hati. Bukan tentang rumah mewah.
Bukan tentang kendaraan mahal.
Bukan pula tentang jabatan tinggi.

Harapan terbesar Andi Ansar hanyalah satu, membahagiakan ibunya, perempuan yang telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk membesarkan anak-anaknya seorang diri setelah sang ayah wafat.

“Saya tidak punya cita-cita hidup mewah. Saya hanya ingin melihat ibu bahagia, bisa hidup tenang, dan menikmati masa tuanya. Itu yang selalu saya perjuangkan setiap hari,” tutup Anca sambil tersenyum.

Baginya, setiap langkah menuju tempat kerja bukan sekadar perjalanan mencari nafkah, melainkan langkah kecil untuk membalas kasih sayang seorang ibu.

Karena ia percaya, selama seseorang tidak berhenti berusaha, selalu ada jalan untuk mengubah keterbatasan menjadi masa depan yang lebih baik.

Bagi Anca, kesempatan menjadi bagian dari Awak Mas Project PT Masmindo Dwi Area telah menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Pekerjaan yang ia peroleh bukan hanya memberinya penghasilan yang lebih layak, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi keluarganya yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan.

Ekonomi keluarga yang dahulu serba pas-pasan kini mulai membaik. Beban sang ibu perlahan berkurang, sementara Anca dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mulai menata masa depan yang selama ini hanya menjadi impian.

“Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari PT Masmindo Dwi Area. Kesempatan ini benar-benar mengubah hidup saya dan perekonomian keluarga kami. Sekarang saya bisa membantu ibu dengan lebih baik dan memiliki harapan untuk masa depan,” ujar Anca.

Bagi pemuda berusia 24 tahun itu, pekerjaan ini bukan sekadar profesi, melainkan sebuah kesempatan yang mengubah arah hidupnya. Dari seorang anak yatim yang pernah bekerja di bengkel, berjualan minuman, hingga berkali-kali ditolak saat melamar pekerjaan, kini ia mampu berdiri lebih tegak, menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Perjalanan hidup Andi Ansar menjadi bukti bahwa kesempatan yang datang, ketika disambut dengan kerja keras, ketekunan, dan rasa syukur, dapat mengubah kehidupan seseorang. Dan di balik setiap langkahnya menuju kawasan tambang di Latimojong, tersimpan satu tujuan yang tak pernah berubah: membahagiakan ibu yang telah berjuang membesarkannya seorang diri.